CNN Indonesia
Kamis, 02 Apr 2026 06:31 WIB
Ilustrasi. Tanpa disadari, inner child rupanya bisa terluka. (iStock/kumikomini)
Jakarta, CNN Indonesia --
Inner child adalah bagian diri nan terbentuk dari pengalaman masa kecil, baik nan menyenangkan maupun menyakitkan. Tanpa disadari, pengalaman-pengalaman ini membentuk langkah seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku saat dewasa.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa dirinya menyimpan luka jiwa sejak kecil. Banyak peristiwa nan dulu terasa 'biasa saja', padahal meninggalkan jejak emosional nan dalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luka itu kemudian terkubur di alam bawah sadar dan muncul kembali dalam corak perilaku nan mengganggu kehidupan saat ini. Berikut ciri-ciri inner child terluka nan kerap tidak disadari, melansir beragam sumber:
1. Takut ditinggalkan
Rasa takut berlebihan bakal ditinggalkan bisa menjadi tanda luka jiwa nan belum sembuh. Ini bisa terlihat dari ketergantungan emosional pada pasangan, rasa tidak layak dicintai, hingga kekhawatiran berlebih dalam hubungan.
Orang dengan kondisi ini condong memerlukan pengesahan terus-menerus dan susah merasa aman, meski tidak ada ancaman nyata.
2. Perasaan bersalah nan berlebihan
Merasa bersalah adalah perihal wajar. Namun, jika muncul tanpa argumen jelas, apalagi saat tidak melakukan kesalahan ini bisa menjadi sinyal adanya luka lama.
Kondisi ini kerap berakar dari masa kecil, ketika seseorang sering dibuat merasa bertanggung jawab atas hal-hal di luar kendalinya.
3. Memiliki trust issue
Sulit percaya pada orang lain sering kali bukan tanpa sebab. Pengalaman dibohongi, dimanipulasi, alias dikhianati di masa mini dapat membentuk sistem pertahanan berupa kecurigaan berlebihan.
Sayangnya, jika tidak disadari, perihal ini justru bisa merusak hubungan nan sehat di masa kini.
4. Sulit menetapkan batas (boundary)
Orang dengan inner child terluka sering kesulitan berbicara "tidak". Mereka condong menjadi people pleaser, mengutamakan orang lain meski kudu mengorbankan diri sendiri.
Hal ini biasanya berakar dari ketakutan bakal penolakan alias kemauan untuk selalu diterima.
5. Mudah marah dan susah mengontrol emosi
Kemarahan adalah emosi nan normal. Namun, jika muncul berlebihan dan susah dikendalikan, bisa jadi itu adalah akumulasi emosi nan terpendam sejak lama.
Luka masa mini nan tidak pernah diekspresikan sering kali "mencari jalan keluar" melalui ledakan emosi di masa dewasa.
6. Sulit melepaskan masa lalu
Terus mengingat kesalahan lama, susah move on, alias mempertahankan sesuatu nan sudah berhujung bisa menjadi tanda adanya luka batin. Rasa kondusif semu dari masa lampau membikin seseorang enggan menghadapi kenyataan, meski perihal itu justru menghalang kebahagiaan.
7. Takut menyampaikan pendapat
Merasa tidak percaya diri untuk berbicara, takut dihakimi, alias menganggap pendapat diri tidak krusial bisa berakar dari pola asuh otoriter di masa kecil.
Anak nan tidak diberi ruang untuk berekspresi condong tumbuh menjadi pribadi nan ragu mengambil keputusan dan menyuarakan dirinya.
Menyadari adanya inner child nan terluka adalah langkah krusial untuk membangun kehidupan nan lebih sehat secara emosional. Dengan begitu, kita tidak hanya bisa menjalin hubungan nan lebih baik dengan pasangan, tetapi juga mencegah 'warisan luka' nan sama kepada generasi berikutnya.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·