CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 18:45 WIB
Ilustrasi. Kamu mungkin menganggap apa nan dia lakukan adalah tanda sayang. Padahal kenyataannya, itu menandakan dia posesif. (Belinda Safitri)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama ini nan Anda anggap tanda sayang bisa jadi bentuk sikap pasangan nan posesif. Berikut beberapa karakter pasangan posesif nan kerap tidak disadari.
Kecemburuan si dia kudu diakui kadang membikin hati berbunga. Kamu merasa disayang dan diinginkan. Namun hati-hati, bisa saja rasa berprasangka pasangan itu hanya salah satu bentuk sikap posesifnya ke kamu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika sudah berulang dan membikin pasangan merasa diawasi, dibatasi, alias takut mengambil keputusan, perilaku ini bisa menjadi bagian dari kontrol dalam hubungan. Mengutip CDC, ini sudah termasuk dalam kekerasan dalam hubungan romantis.
Bentuknya juga bisa berupa kekerasan seksual, penguntitan, hingga agresi psikologis nan membikin pasangan merasa tertekan alias tidak aman. Berikut tujuh karakter pasangan pencemburu nan perlu diwaspadai.
1. Cemburu berlebihan dan berprasangka terus-menerus
Cemburu sesekali mungkin tetap wajar. Namun, jika pasangan terus-menerus berprasangka tanpa argumen jelas, menuduh selingkuh, alias selalu meminta pembuktian, ini bisa menjadi tanda hubungan mulai tidak sehat.
Studi nan diterbitkan di Partner Abuse menjelaskan kecemburuan dalam hubungan dapat berangkaian dengan rendahnya kepercayaan dan attachment anxiety. Kondisi ini bisa membikin seseorang lebih mudah berprasangka dan menunjukkan kecemburuan berlebihan.
2. Mengontrol aktivitas dan pergaulan
Pasangan pencemburu biasanya mau tahu semua perihal nan dilakukan pasangannya, mulai dari pergi dengan siapa, pulang jam berapa, boleh berjumpa siapa, hingga aktivitas apa nan boleh dilakukan.
Awalnya, sikap ini bisa terlihat seperti perhatian. Namun, jika berubah menjadi patokan nan membatasi kebebasan, perilaku itu sudah masuk ke pola kontrol. Dampak kekerasan dalam hubungan ini pun sangat dipengaruhi oleh ada alias tidaknya pola kontrol koersif alias tindakan memaksa.
3. Memantau ponsel, media sosial, dan lokasi
Ilustrasi. Ciri pasangan pencemburu termasuk memantau pergerakanmu di keseharian dan di media sosial. (Dwi Lindah Permatasari)
Salah satu corak pencemburu nan sering muncul adalah kontrol lewat ponsel. Si dia bisa meminta akses ke kata sandi, membuka chat tanpa izin, mengecek media sosial, alias menuntut berbagi letak setiap saat.
Penelitian berjudul Privacy or Transparency? Negotiated Smartphone Access as a Signifier of Trust in Romantic Relationships menemukan akses ponsel dalam hubungan sering dianggap sebagai simbol kepercayaan. Namun, akses itu semestinya berasas kesepakatan bersama, bukan paksaan.
4. Terisolasi dari kawan alias keluarga
Pasangan pencemburu juga bisa membikin seseorang perlahan menjauh dari lingkungan sosialnya. Caranya bisa halus, seperti menyindir kawan pasangan, membikin pasangan merasa bersalah saat keluar, alias menuntut semua waktu dihabiskan bersama.
Hubungan nan sehat tetap memberi ruang untuk keluarga, teman, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Dalam coercive control, isolasi sosial termasuk corak kontrol nan dapat berakibat pada kesehatan mental korban.
5. Menjadikan berprasangka sebagai bukti cinta
Kalimat seperti "Aku berprasangka lantaran sayang" sering terdengar romantis. Tapi, jika berprasangka dipakai untuk membenarkan perilaku mengatur, memantau, alias membatasi pasangan, itu bukan lagi tanda sayang.
Studi nan dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships menemukan perilaku nan sengaja memicu kecemburuan berangkaian dengan bentrok verbal, perilaku mengontrol, dan pengalaman kekerasan pasangan.
6. Takut mengambil keputusan sendiri
Pasangan pencemburu bisa membikin seseorang ragu mengambil keputusan tanpa izin. Hal sederhana seperti memilih pakaian, pergi dengan teman, menerima pekerjaan, alias membalas pesan orang lain bisa terasa menegangkan lantaran takut pasangan marah.
Kekerasan dalam hubungan romantis tidak selalu berupa pukulan. Pola intimidasi, ancaman, dan agresi psikologis juga termasuk corak kekerasan nan bisa membikin korban merasa takut dan tertekan.
7. Marah ketika Anda pasang batasan
Hubungan sehat tetap memerlukan batas. Setiap orang berkuasa punya privasi, waktu sendiri, teman, ruang digital, dan keputusan pribadi. Pasangan pencemburu biasanya susah menerima pemisah itu. Ia bisa marah ketika pasangannya tidak langsung membalas pesan, menolak membuka ponsel, alias mau punya waktu sendiri.
Posesif sering kali dimulai dari perihal nan terlihat kecil. Tapi jika polanya berulang, membikin salah satu pihak takut, terkekang, alias kehilangan kebebasan, hubungan perlu dibaca ulang. Cinta semestinya membikin seseorang merasa aman, bukan terus diawasi.
(els/els)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·