Perusahaan teknologi dan AI, Palantir meluncurkan manifesto perusahaan. Sentimen publik negatif dengan melihatnya sebagai corak niat jahat dan teknofasis.
Layaknya partai politik alias tokoh politik besar, perusahaan AI rekanan pemerintah Amerika ialah Palantir meluncurkan semacam manifesto politik berbentuk kitab nan berjudul The Technological Republic: Hard Power, Soft Belief, and the Future of the West.
Buku ini disusun sang CEO Alexander C Karp dan Nicholas W Zamiska, kepala urusan korporat dan penasihat norma Palantir. Buku ini intinya adalah 22 poin sikap sebagai berikut:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Silicon Valley mempunyai hutang moral kepada negara nan memungkinkan kebangkitannya. Para elite teknik di Silicon Valley mempunyai tanggungjawab untuk berperan-serta dalam pertahanan negara.
2. Kita kudu memberontak terhadap tirani aplikasi. Apakah iPhone merupakan pencapaian imajinatif terbesar kita, jika bukan puncak pencapaian peradaban? Objek ini telah mengubah hidup kita, tetapi mungkin juga sekarang membatasi dan menghalang rasa kemungkinan kita.
3. Email cuma-cuma saja tidak cukup. Kemerosotan suatu budaya alias peradaban, dan apalagi kelas penguasanya, hanya bakal dimaafkan jika budaya tersebut bisa memberikan pertumbuhan ekonomi dan keamanan bagi masyarakat.
4. Batasan soft power, retorika nan muluk-muluk saja, telah terungkap. Kemampuan masyarakat bebas dan demokratis untuk menang memerlukan sesuatu nan lebih dari sekadar daya tarik moral. Itu memerlukan hard power, dan hard power di abad ini bakal dibangun di atas perangkat lunak.
5. Pertanyaannya bukanlah apakah senjata AI bakal dibangun; melainkan siapa nan bakal membangunnya dan untuk tujuan apa. Musuh kita tidak bakal berakhir untuk terlibat dalam perdebatan teatrikal tentang faedah pengembangan teknologi dengan aplikasi militer dan keamanan nasional nan kritis. Mereka bakal terus maju.
6. Bela negara kudu menjadi tanggungjawab universal. Sebagai masyarakat, kita kudu mempertimbangkan dengan serius untuk beranjak dari angkatan bersenjata sukarelawan dan hanya bertempur dalam perang berikutnya jika semua orang berbagi akibat dan biaya.
7. Jika seorang Marinir AS meminta senapan nan lebih baik, kita kudu membuatnya; dan perihal nan sama bertindak untuk perangkat lunak. Sebagai negara, kita kudu bisa melanjutkan perdebatan tentang kesesuaian tindakan militer di luar negeri sembari tetap teguh dalam komitmen kita kepada mereka nan telah kita minta untuk terjun ke medan perang.
8. Pegawai negeri tidak perlu menjadi pendeta kita. Bisnis apa pun nan memberi kompensasi kepada karyawannya seperti nan dilakukan pemerintah federal terhadap pegawai negeri, bakal kesulitan untuk memperkuat hidup.
9. Kita kudu menunjukkan lebih banyak belas kasih kepada mereka nan telah mengabdikan diri pada kehidupan publik. Penghapusan ruang untuk pengampunan-pengabaian toleransi terhadap kompleksitas dan pertentangan jiwa manusia-dapat meninggalkan kita dengan tokoh-tokoh nan bakal kita sesali di kemudian hari.
10. Psikologisasi politik modern menyesatkan kita. Mereka nan mencari arena politik untuk menyehatkan jiwa dan rasa diri mereka, nan terlalu berjuntai pada kehidupan jiwa mereka nan menemukan ekspresi pada orang-orang nan mungkin tidak pernah mereka temui, bakal kecewa.
11. Masyarakat kita terlalu antusias untuk mempercepat, dan seringkali ceria atas kehancuran musuh-musuhnya. Mengalahkan musuh adalah saat untuk berakhir sejenak, bukan untuk bersukacita.
12. Zaman atom bakal berakhir. Satu era pencegahan, era atom, bakal berakhir, dan era baru pencegahan nan dibangun di atas AI bakal segera dimulai.
13. Tidak ada negara lain dalam sejarah bumi nan telah memajukan nilai-nilai progresif lebih dari negara ini. Amerika Serikat jauh dari sempurna. Namun mudah untuk melupakan sungguh banyaknya kesempatan nan ada di negara ini bagi mereka nan bukan elit turun-temurun dibandingkan negara lain mana pun di planet ini.
14. Kekuatan Amerika telah memungkinkan perdamaian nan luar biasa panjang. Terlalu banyak orang nan lupa alias mungkin menganggap remeh bahwa nyaris satu abad perdamaian dalam beragam corak telah berjalan di bumi tanpa bentrok militer kekuatan besar. Setidaknya tiga generasi - miliaran orang dan anak-anak mereka dan sekarang cucu-cucu mereka - belum pernah mengalami perang dunia.
15. Pelemahan Jerman dan Jepang pascaperang kudu dibatalkan. Pelemahan Jerman adalah koreksi berlebihan nan sekarang Eropa bayar mahal. Komitmen serupa dan sangat teatrikal terhadap pasifisme Jepang, jika dipertahankan, juga bakal menakut-nakuti untuk menggeser keseimbangan kekuatan di Asia.
16. Kita kudu memuji mereka nan mencoba membangun di tempat pasar kandas bertindak. Budaya nyaris mencemooh minat Musk pada narasi besar, seolah-olah para miliarder semestinya hanya tetap berada di jalur mereka untuk memperkaya diri sendiri. Rasa mau tahu alias minat tulus terhadap nilai dari apa nan telah dia ciptakan pada dasarnya diabaikan, alias mungkin tersembunyi di kembali cemoohan nan terselubung.
17. Silicon Valley kudu berkedudukan dalam mengatasi kejahatan kekerasan. Banyak politisi di seluruh Amerika Serikat pada dasarnya acuh tak acuh terhadap kejahatan kekerasan, meninggalkan upaya serius untuk mengatasi masalah tersebut alias mengambil akibat apa pun dengan konstituen alias dermawan mereka dalam menghasilkan solusi dan penelitian dalam upaya nan semestinya menjadi upaya putus asa untuk menyelamatkan nyawa.
18. Pengungkapan kehidupan pribadi tokoh publik nan tanpa maaf menjauhkan terlalu banyak talenta dari pelayanan pemerintah. Arena publik-dan serangan dangkal dan picik terhadap mereka nan berani melakukan sesuatu selain memperkaya diri sendiri-telah menjadi begitu sadis sehingga republik ini mempunyai daftar signifikan orang-orang nan tidak efektif dan sunyi nan ambisinya bakal dimaafkan jika ada struktur kepercayaan nan tulus nan tersembunyi di dalamnya.
19. Kehati-hatian dalam kehidupan publik nan tanpa disadari kita dorong, adalah berkarakter merusak. Mereka nan bilang tidak ada nan salah seringkali tidak mengatakan banyak perihal sama sekali.
20. Intoleransi nan meluas terhadap kepercayaan keyakinan di kalangan tertentu kudu ditentang. Intoleransi kaum elit terhadap kepercayaan keyakinan mungkin merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa proyek politik mereka merupakan aktivitas intelektual nan kurang terbuka daripada nan diklaim oleh banyak orang di dalamnya.
21. Beberapa budaya telah menghasilkan kemajuan penting; nan lain tetap disfungsional dan regresif. Semua budaya sekarang setara. Kritik dan penilaian nilai dilarang. Namun dogma baru ini mengabaikan kebenaran bahwa budaya tertentu dan apalagi subkultur tertentu telah menghasilkan keajaiban. nan lain terbukti biasa-biasa saja, dan lebih jelek lagi, regresif dan berbahaya.
22. Kita kudu menolak bujukan dangkal dari pluralisme nan kosong dan hampa. Kita, di Amerika dan lebih luas lagi di Barat, selama separuh abad terakhir telah menolak mendefinisikan budaya nasional atas nama inklusivitas. Tetapi inklusi ke dalam apa?
22 Poin manifesto dari kitab ini juga diposting resmi di akun X Palantir dan viral dengan 8.400 komentar, 16 ribu retweet, 33 ribu likes dan 49 ribu bookmark. Namun reaksi publik malah agak negatif dan merasa ngeri.
Dilansir Minggu (26/4/2026) The Guardian Inggris merangkum sejumlah tanggapan personil parlemen Inggris. Manifesto Palantir dinilai seperti parodi movie RoboCop, narsis dan arogan. Palantir adalah perusahaan teknologi nan untung besar dari kontrak-kontrak pertahanan dengan Amerika dan Inggris. Perang menguntungkan upaya mereka.
"Manifesto Palantir terdengar seperti ocehan seorang penjahat super. Perusahaan nan mempunyai motivasi ideologis nan begitu kentara dan kurangnya rasa hormat terhadap supremasi norma demokratis semestinya tidak berada di dekat jasa publik kita," kata Victoria Collins, personil DPR Inggris dari Liberal Democrat.
Sementara itu Deutsche Welle Jerman mengutip Yanis Varoufakis, master ekonomi dan mantan Menteri Keuangan Yunani. Tanggapannya pun negatif.
"Jika Iblis bisa men-tweet, inilah bentuknya," kata Varoufakis.
Sementara itu intelektual politik Belanda, Cas Mudde menilai Palantir adalah bentuk teknofasisme. "Teknofasisme murni! Eropa bukan hanya kudu menghentikan kerja sama baru, tapi kudu divestasi dari perusahaan teknofasis ASAP!" ujarnya.
BBC Inggris meminta komentar Ketua Etika Data dan AI Edinburgh University, Profesor Shanno Vallor. Responsnya juga negatif.
"Setiap lonceng tanda ancaman untuk kerakyatan kudu berbunyi," kata Vallor.
(fay/ask)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·